Teori teori tentang belajar
A Teori Belajar dan Perubahan Pradigma Belajar
Menurut Wheeler ,teori adalah suatu perinsip atau serangkaian prinsip yang menerangkan sejumlah hubungan antara berbagai fakta dan meramalkan hasil hasil baruru berdaasankan fakta fakta tersebut,sedangkan teori belajar dapat dipahami sebagai prinsip umim atau kumpulan prinsip yang saling berhubungan danmerupakan penjelasan atas sejumlah fakta atau penemuan yang berkaitan dengan peristiwa belajar.
Teori beljar memiliki empat fungsi(Suppes,dalam Bell-Gredler,1986)yaitu
1.menjadi kerangka kerja bagi pelaksana penelitian
2.memberikan pengorganisasian kerangka kerja bagi item informasi tertentu
3.mengungkapkan kompleksitas peristiwa peristiwa sederhana secara jelas
4.mengorganisasi ulang pengalaman sebelumnya.
Dalam perkembagan teori belaja,setidaknya telah tiga kali pergantian pradigma.pertama pradigma behavioristik yang menekankan proses belajar sebagai perubahan relative permanen pada perilaku yang dapat diamati dan timbul sebagai hasil pengalaman (Mazur,dalam Eggen dan Kauchak 1997).dengan demikian penekana hanya pada prilaku yang dapat dilihat,tampa memperhatikan perubahan perubahan atau proses proses internal apapun yang terlihat di dalamnya.
Kedua,paradigm kognitif yang berpendapat bahwa belajar tidak dapat ditunjukkan oleh perubahan prilaku yang dapat diamati,akan tetapi belajar adalah perubahan structural mental inernal seseorang yang memberikan kapasitas padanya untk menunjukan perubahan perilaku.Struktural mental ini meliputi pengetahuan,keyakinan,kterampilan,harapan,dan mekanisme lainnya.dengan demikian focus paradigm ini adalah pada potensi perilaku.
Ketiga,paradigm konstruktivis yng memandang belajar sebagai proses konstruksi pengetahan oleh individu yang berdasarkan pengalaman.teori teori dalam paradig ma ini diantaranya adalah teori individual cognitive constructivist dari Jean Piget dan teori sociocultural constructivist dari Vygotsky.
B.Teori teori Belajar Behavioristik
Teori belajar behavioristik menerapkan peruses belajar sebagai perubahan relative permanen pada perilaku yang dapat diamati dan timbul sebagai hasil pengalaman.Dari defenisitersebut Nampak bahwa perubahan perilaku yang disebabkan oleh sakit,distress emosiona,atau kematangan yang tidak dapat disebut sebagai belajar.
Tiga teori behavioristik tentang belajar yang cukup terkenal adalah teori connectionism,classical conditioning,dan operant conditioning .
1.Teori Connectionisme
Teori connectionism ditemukan dan dikembangkan oleh Edward L.Thorndike (1874-1949).menurut thondike,seluruh kegiatan belajar didasarkan pada jaringan asosiasiatau hubungan (bonds)yangdibentuk antara stimulus dan respon.Karena itu teori ini disebut juga S-R bond theory atau S-R psychology of learning.asumsinya bahwa otak siswa dapat menyerap dan menyimpan jejak jejak mental aspek individual
dari sebuah setuasi.Bila aspek aspek tersebut didasarkan,mereka mengaktifkan jejak mental yang yaberhubungan. Jejak mental trsebut pada glirannya berkaitan secara kolektif dengan respon-rspon khusus. Bila asosiasi tersebut t rbentuk utuh, setiap waktu bila seorang siswa di harapkan pada suatu situasi maka ia pasit akan menunjukkan respon tertentu. Selain itu teori ini juga di sebut trial and error learning. Hal ini berhubungan yang trbentukk antara stimulasi dan respon tersebut timbul terutama melalui trial and error, yaitu suatu upaya mencoba berbagai resppon untuk mencapai stimulaasi berkali-kali mengalami kegagalan.
Thordike juga membuat rumusan 3 hukum belajar mayor, yaitu:
a. Law of readiness (hukum kesiapan)
Belajar akan terjadi bila ada kesiapan dari individu. Manakala organism, baik manusia maupun hewan memiliki kesiapan untuk belajar, maka ia akan mengalami kepuasan, tetapi jika ia tidak siap maka akan terjadi kekecewaan. Thorndike percaya bahwa kesiapan adalah kondisi belajar yang penting, karena kepuasan atau frustasi bergantung pada kondisi kesiapan individu. Kalau idividu tidak siap, ia akan megalami dalam belajar dan kegagalan tersebut pada akhirnya akan menyebabkan ia menjadi frustasi. Oleh karena itu, sekolah tidak dapat memaksa siswa untuk belajar jika mereka tidak siap, baik secara biologis ataupun psikologis.
b. Law of exercises (hukum latihan)
Prilaku sebagai hasil belajar terbentuk karena adanya hubungan antara stimulasi dan respon. Hubungan tersebut akan di perkuat atau di perlemah oleh timgkat intensitas dan duras pengulangan hubungan atau latihan. Jika tidak terjadi latihan selama beberapa waktu, hubungan akan melemah. Sebaliknya, hubungan akan bertambah kuat kalau ada latihan. Implikasinya dalam proses pembelajaran,guru perlu memberikan kesempatan latihan sebanyak mungkin pada siswa, sehingga mencapai hasil yang di harapkan. Thorndike merevisi hukum ini latihan saja tidak kalah cukup, latihan hanya akan membawa hasil bila di ikuti atau di sertai hadiah (reward) atau hukuman (pounishment).
c. Law of effect (hukum efek)
Jika sebuah respon menghasilkan efek yang menyenangkan hubungan antara stimulasi dan respon akan semakin kuat. Sebaliknya semakin tidak memuaskan efek yang di hasilkan respon, semakin lemah pula hubungan stimulasi dan respon tersebut, kemudia pada akhirnya respon tersebut tidak di munculkan lagi. Implikasinya dalam proses pembelajaran guru perlu memberikan hadiah bagi perilaku positif yang di tunjukkan oleh siswa. Sebaliknya terhadap prilaku negative, perlu di berikan hukuman. Thorndike juga merevisi hukum ini. Menurutnya dalam keadaan aksi simetris mungkin di lakukan, hadiah lebih kuat pengaruhnya dari pada hukuman.
2. teori classical conditioning
teori classical conditioning berkembang berdasarkan eksperiment yang di lakukan oleh Ivan Pavlov (1849-1936). Dalam eksperimennya Pavlov menggunakan anjing untuk mengetahui bagaimana reflex bersyarat terbentuk dengan adanya hubungan antara conditioned stimulus (CS) , unconditioned stimulus (UCS) dan conditioned respon (CR). Pertama-tama, anjing di operasi pada salah satu kelenjar air liurnya di beri alat penampung yang di hubungkan dengan pipa kecil sehingga jika air liurnya keluar dapat lihat oleh peneliti. Sebelum melakukan eksperimen anjing selalu mengeluarkan air liurnya setiap kali melihat makanan. Namun ketika hanya mendengar bunyi bel maka air liurnya tidak keluar.
Secara singkat eksperimen tersebut di gambarkan sbb:
· Sebelum eksperimen :pemberian makanan (UCS)-air liur keluar (CR)
Bunyi bel (CS)-air liur tidak keluar (CS)
· Eksperimen :bunyi bel (UCS) + pemberian makanan (CS)-air liur keluar (CR)
· Setelah eksperimen :bunyi bel (CS)-air liur keluar (CR).
3. Teori operant conditioning
Teodri ini dikemukakan oleh BF.Skiner pada tahun1930 an. Di namakan operant conditioning karena rspon bereaksi terhadap lingkungan sebagai efek yang di timbulkan oleh rainforce. Menurut Skinner, sebagian besar periaku manusia adalah berupa respon atau jenis perilaku operant. Menrutut skinner pula, perilaku terbentuk oleh konskuensi yang menyenangkan akan membuat prilaku yang sama di ulangi lagi, sebaliknya konskuensi yang tidk menyenangkan akan di membuat perilaku I hindari.berdasarkan teori ini, skinner merumuskan prosedur pembentukan perilaku. Secara sederhana, prosdur tersebut terdiri dari tahap-tahap sebagai berikut:
a. Identifikasi kemungkinan rainforcer bagi perilaku yang akan di bentuk.
Pada tahap ini, di lakukan identifikasi terhadap berbagai kemungkinan rainforcer yang tepat sebagai stimulusbagi perilaku yang akan di bentuk. Yang harus di pertimbangkan pada proses ini adalah kuat lemahnya rainforcer bagi subjek dan tingkat usia subjek.
b. Analisis komponen-komponen perilaku.
Pada tahap di lakukan perincian komonen-komponen yang terkandung dalam perilaku yang ingin di bentuk. Komonen komponen terdebut lalu di susun dalam urutan yang tepat untuk menuju kapada terbentuknya perilaku. Buatlah komponen yang serinci mungkin untuk memastikan bahwa komponen-komponen tersebut bermuara pada perilaku yang di maksud.
c. Identifikasi rainforcer untuk masing-masing komponen perilaku.
Pada taha ini semua kemungkinan rainforcer yang dianggap potensial bagi pembentukan setiap komponen perilaku di identifikasi untuk kemudian di persiapkan.
d. Melaksanakan pembentukan periaku sesuai dengan urutan komponen perilaku yang telah di susun.
Pada tahap ini semua perencanaan pembentukan perilaku beserta rainforcernya di laksanakan. Kalau komponen pertama telah di lakukan maka hadiahnya di berikan hingga komponen tersebut makin cenderung untuk sering di lakukan. Kalau ini sudah terbentuk, pemberian hadiah di hentikan, di lanjutkan pada pemberian hadiah pada komponen ke dua bila telah di lakukan. Ini juga di lakukan berulang-ulang hingga komponen ke dua juga terbentuk. Demikian seterusnya sehingga semua komponen erilau terbentuk.
C. Teori teori belajar kogninif
Teori belajar ini menjelaskan belajar dengan berfokus pada perubahan perubahan proses mental internal yang di gunakan dalam upaya memahami dunia eksternal. Teori teori belajar kognitif menekankan bahwa dalam proses belajar, pemelajar aktif dalam pengembangan pemahaman mereka sendiri tentang topic yang mereka pelajari.
Dari perspektif kognitif, belajar adalah perubahan dalam struktur mental seseorang yang memberikan kapasitas untuk menunjukkan perubahan perilaku. Struktur mental ini meliputi pengetahuan, keyakinan, keterampilan, haraan dan mekanisme lain dalam kepala pemelajar. Fokus teori kognitif adalah potensi untuk berprilaku dan bukann pada pelakunya sendiri. Menurut eggen dan kaucak (1997), psikologi kognitif merupakan orientasi teoritis eklektik Karena tidak ada teori belajar yang kognitif yang tunggal, tetapi lebih pada sekumpulan kognitif.
Di antara teori teori belajar kognitif yang terkenal adalah teori cognitive field, teori schema dan information processing theory.
1. Teori kognitif fied
Teori ini di kemukakan oleh kurt lewin (1892-1947). Menurutnya, masing masing individu berada dalam medan kekuatan yang bersiafat psikologis di mana ia bereaksi terahadap life space yang mencakup perwujudan lingjungan di mana individu bereaksi. Teori ini berpandangan bahwa belajar merupakan perubahan dalam struktur kognitif. Artinya, apa bila seseorang belajar maka akan bertamabah pengetahuannya. Yang lebih berperan penting adalah motivasi bukan punishment.
2. Teori schema
Teori in mengemukakan keberdaan struktur pengetahuan yang di sebut dengan schema atau schemata yang memiliki dua bentuk, yaitu: bentuk objek dan bentuk kejadian. Bentuk terakhir secara umum di sebut sebagai scrit.
Schema di bentuk melalui sebuah proses abstraksi. Schema yang sudah di bentuk akan mempngaruhi apa yang di ingat tentang sebuah pengalaman melalui tiga proses, yaitu: seleksi, pengmabilan intisari, dan interpretasi. Schema juga di modifikasi dengan tiga proses, yaitu dengan penembahan, penyesuaian, dan restrukturisasi.
Ada tiga implementasi utama dari teori schema dalama praktek pendidikan (Byners, 1996), yaitu:
a. Guru harus memendang belajar sebagai perolehan dan modifikasi schema dan bukan perolehan tanpa makna.
b. Guru harus mengetahui bahwa tanpa berbagai alat bantu belajar, siswa terkadang hanya menyerap sedikit pengalaman.
c. Belajar yang bermakna timbul bila siswa dapat memasukkan informasi baru ke dalam schema yang telah ada atau bila mereka dapat menciptakan schema baru dengan cara analogi terhadap shemata yang lama.
a. Teori pemrosesan informasi (information procecing theori)
Teori pemrosesan informasi adalah teori kognitif tentang belajar yang menggambarkan pemrosesan, penyimpanan dan perolehan penetahuan oleh pikiran (Byrnes, 1996).
Menurut teori ini, belajar adalah menyangkut tentang bagaimana informasi dari lingkungan dapat di simpan dalam memori. Komponen pertama adalah komponen penyimpanan informasi (memori), yatiu tempat penyimpanan data, yang di gunakan untuk menyiman informasi. Komponen ke dua adalah proses kognitf, yaitu tindakan internal, intelektual yang mentransfer informasi dari suatu penyimpanan ke tempat penyimpanan yang lain. Komponen ke tiga adalah metakognisi, yaitu pengetahuan dan kontrol terhadap proses-proses kognitif.
Teori pemrosesan informasi memiliki dua implikasi pokok terhadap praktek pendidikan (Byners, 11996), yaitu:
a. Guru perlu mengetahui bahwa pada dasarnya siswa memiliki keterbatasan dalam memproses dan mengingat informasi.
b. Guru harus memberikan kesempatan pada siswa untuk melakukan pengulangan dan latihan.
D. Teori-teori belajar konstruktivis
Fosnot (1996), mengatakan konstruktivisme adalah teori tentang pengetahua belajar, yang menguraikan tentang apa itu mengetahui, dan bagaimana seseorang menjadi tahu.
Dari perspektif konstruktivisme, belajar di pandang sebagai suatu proses pengaturan diri melawan konflik antara model pribadi yang telah ada tentang dunia dan pemahaman baru yang tidak sesuai, mengonstruksikan representasi dan model realitas baru yang bermakna dengan berupaya mengembangkan alat dan simbol-simbol, selanjutnya menegosiasi makan tersebut melalui akivitas sosial, dialog, dan debat.
Initi dari kegiatan pembelajaran dalam hal ini adalah penataan lingkungan belajar. Lingkungan belajar berarti di mana si pemelajar dapat bekerja sama dan saling mendukung satu sama lain, sebagaimana mereka menggunakan berbagai sarana dan sumber infomasi dalam mencapai tujuan belajar dan aktivitas pemecahan masalah (Wilson, 1996). Sedangkan tujuan belajar menurut konstruktivis adalah menanamkan pada diri si pemelajar rasa tanggung jawab dan kemandirian, mampu mengembangkan studi, penyelidikan dan pemecahan masalah nyata, kebermaknaan dan berdasarkan situasi nyata, dan menggunakan aktivitas belajar dinamik yang dapat meningkat pada level operasi tingkat tinggi.
Menurut Eggen dan Kauchak (1997), ada empat ciri teori konstruktivis, yaitu:
1. Dalam proses belajar, individu mengembangkan pemahaman sendiri, bukan menerima pemahaman dari orang lain;
2. Proses belajar sangat tergantung pada pemahaman yang telah dimiliki sebelumnya;
3. Belajar di fasilitasi oleh interaksi sosial, dan;
4. Belajar yang bermakna timbul dalam tugas-tugas belajar yang otentik.
Dari berbagai pandangan kondtruktivis yang adalah, ada dua yng mendominasi, yaitu:
1. Teori individual construktivis
Di kemukakan oleh jean peaget (1977). Teori ini berfokus pada konstruksi internal individu terhadap pengetahuan (Fowler, Moshman, dalam Eggen dan Kauchak, 1997). Teori ini menekankan pada aktivitas belajar yang di tentukan oleh pemelajar sendiri. Dengan demikian, belajar merupakan proses reorganisasi kognitif secara aktif (Duffy dan Cunningham, 1996).
Teori ini juga mengemukakan tahap-tahap perkembangan pribadi serta pertambahan umur yang memengaruhi kemampuan belajar individu. Menurut Piaget, perkembangan kapasitas mental baru yang sebelumnya tidak ada. Dalam hal ini, perkembangan kognitif manusia melalui 4 tahap, yaitu:
1. Tahap sensori motoris (0-2 tahun), anak hanya dapat mengetahui hal-hal yang di tangkap melalui indranya.
2. Tahap preoperasional (2-7 tahun), mulai timbul perkembangan kognitifnya, tetapi masih terbatas pada hal-hal di jumpai;
3. Tahap operasional kongkrit (7-11 tahun), anak telah dapat berpikir kongkrit;
4. Tahap operasional formal (11-15 tahun), anak telah mempunyai pemikiran abstrak pada bentuk-bentuk yang kompleks.
2. Teori sociocultural construktivist
Teori ini di kemukakan oleh lev vygotsky (Brunig dkk, 1995). Teori ini brpandangan bahwa pengetahuan berada dalam konteks sosial, karenanyan di tekankan pentingnya bahasa dalam belajar yang timbul dalam situasi-situasi sosial yang berorientasi pada aktivitas. (Eggen dan Kauchak, 1997). Meurut vygotsky, anak anak hanya dapat belajar dengan cara terlibat langsung dalam aktivitas bermakna dengan orang yang lebih pandai. Dengan berinteraksi dengan orang lain, anak memperbaiki pemahaman dan pengetahuan mereka dan membantu membentuk pemehaman tentang orang lain. Menurut eggen dan kauchak (1997), penerapan ZPD dalam pembelajaran mencakup tiga tugas, yaitu:
1) Pengukuran;
2) Pemilihan aktivitas belajar;
3) Pemberian dukungan pembelajaran untuk membantu siswa melalui zonanya secara berhasil.
Tugas selanjutnya adalah menyesuaikan tugas tugas belajar dengan level perkembangan siswa. Jika tugas terlalu mudah maka tidak perlukan pembelajaran, tapi jika tugas terlalu berat maka siswa menjadi bingung dan frustasi. Karenanya di perlukan penyederhanaan tugas siswa yang kurang memiliki kemampuan dan peningkantan tugas bagi yang memiliki kemampuan di atas rata-rata.
Tugas selanjutnya adalah memberikan dukungan pembelajaran. Ini di lakukan dengan menerapkan konsep scaffolding. Dalam hal ini, ada beberapa tipe scaffolding yang dapat di terapkan (Eggen dan Kauchak), yaitu:
1) Modelling
2) Think aloud
3) Pertanyaan-pertanyaan.
Teori vygotsky memiliki 4 implikasi pendidikan yang utama, yaitu:
- guru harus bertindak sebagai scaffold yang memberikan bimbingan yang cukup untuk membantu anak anak mencapai kemajuan;
- pembelajaran harus selalu berupaya mempercepat level penguasaan terkini anak anak;
- untuk menginternalisasi keterampilan pada anak anak, pembelajaran harus berkembang dalam empast fase. Pada fase pertama, guru harus menjadi model dan memberikan komentar verbal mengenai apa yang mereka lakukan dan apa alasannya. Pada fase ke dua, siswa harus berupaya mengimitasi apa yang di lakukan guru. Pada fase ke tiga, guru harus mengurangi inervensinya secara progresif begitu siswa telah menguasai meteri trsebut. Keempat, guru dan siswa secara berulang ulang mengambil peran secara bergiliran.
- anak anak perlu berulang ulang di hadapkan dengan konsep-konsep ilmiah agar konsep spontan mereka menjadi lebih akurat dan umum.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar